Komponen, Fungsi, dan Tujuan Pendidikan
Disusun Untuk Memenuhi
Tugas UAS
Dasar-Dasar Pendidikan
Dosen Pengampu :
Kiswan, S.Ag., M.Pd.
![]() |
Disusun Oleh :
Sovia Hidayatul Qolbi
FAKULTAS TARBIYAH
PROGRAM STUDI
PENDIDIKAN MADRASAH IBTIDAIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM
DARUSSALAM
CIAMIS JAWA BARAT 2013/2014
KATA PENGANTAR
Puji syukur
kepada Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta karunianya sehingga saya
dapat menyelesaikan makalah Dasar-Dasar Pendidikan.
Makalah
ini berisikan tentang Komponen, Fungsi, dan Tujuan Pendidikan. Saya menyadari
bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, karena kesempurnaan hanya milik
Allah SWT. Oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat
membangun saya terbuka lebar dalam menerimanya, demi kesempurnaan makalah ini.
Semoga makalah ini dapat memberikan manfa’at berupa wawasan yang luas kepada
pembaca.
Ciamis, Desember 2013
penulis
DAFTAR ISI
KATA
PENGANTAR
DAFTAR
ISI
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang Masalah
B. Rumusan
Masalah
C. Tujuan
D. Manfaat
BAB II PEMBAHASAN
A. Komponen
Pendidikan
B. Fungsi
Pendidikan
C. Tujuan
Pendidikan
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan
B. Saran
DAFTAR
PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang Masalah
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk
mewujudkan suasana belajar dan proses pemelajaran agar peserta didik secara
aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual
keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan,
akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat. Pendidikan
meliputi pengajaran keahlian khusus dan juga sesuatu yang tidak dapat dilihat
tetapi lebih mendalam yaitu pemberian pengetahuan, pertimbangan dan
kebijaksanaan.
B.
Rumusan
Masalah
Adapun
masalah-masalah yang dapat dirumuskan dari pemaparan di atas antara lain :
1. Apa
yang dimaksud dengan Komponen Pendidikan ?
2. Apa
Fungsi dari Pendidikan ?
3. Jelaskan
Tujuan dari Pendidikan ?
C.
Tujuan
1. Untuk
mengetahui maksud dari Komponen Pendidikan.
2. Untuk
mengetahui Fungsi Pendidikan.
3. Untuk
mengetahui Tujuan Pendidikan.
D.
Manfa’at
Adapun
manfa’at penyusunsan makalah ini bagi penulis adalah sebagai media untuk
menambahkan pengetahuan tentang Komponen, Fungsi, dan Tujuan Pendidikan. Dan
penulis berharap bahwa makalah ini dapat bermanfa’at bagi mahasiswa untuk
menunjang materi perkuliahan belajar dan pembelajaran.
BAB II
PEMBAHASAN
KOMPONEN , FUNGSI, DAN TUJUAN PENDIDIKAN
A.
Komponen
Pendidikan
Kegiatan
pendidikan adalah sebuah sistem. Sebagai sebuah sistem pendidikan memuat
beberapa komponen-komponen tertentu yang saling mempengaruhi dan menentukan.
Untuk memudahkan pemahaman tentang sistem, ambilah contoh sebuah sepeda. Sepeda
adalah sebuah sistem. Sebuah sistem terdiri atas beberapa komponen. Pada sepeda
terdapat beberapa komponen yaitu rantai, ban, rem, sadel, setang dan lain-lain.
Komponen tersebut membentuk berfungsinya sebuah sistem. Jika salah satu
komponen mengalami kerusakan makasistem tidak akan berfungsi. Sebagai contoh
pada sepeda, jika salah satu komponenya rusak,misalnya bannya kempes, maka
sepeda tidak dapat berfungsi dengan baik. Demikian juga pendidikan, sebagai
sebuah sistem, pendidikan terdiri dari beberapa komponen, yaitu tujuan, peserta
didik, alat dan lingkungan. Jika salah satu komponen tidak ada maka pendidikan
tidak dapat berfungsi. Misalnya jika tidak ada guru maka proses belajar
mengajar tidak berjalan dengan baik. Berikut ini penjelasan tentang berbagai
komponen pendidikan.
1.
Tujuan
Pendidikan
Tujuan
merupakan komponen penting dan sangat menentukan bahkan merupakan esensi dari
pendidikan. Tujuan pendidikan memiliki berbagai tingkatan, mulai dari tujuan
umum, tujuan khusus, tujuan tidak lengkap, tujuan sementara, tujuan
intermedier, dan tujuan insidental/ bersifat seketika/sementara (Barnadib,
1984:50). Uraian tentang tujuan pendidikan secara luas dan mendalam akan
dibahas pada tujuan lainnya subpokok bahasan fungsi dan tujuan pendidikan.
2.
Peserta
Didik
Peserta
didik adalah anggota masyarakat laki-laki dan permpuan yang berusaha mengembangkan
potensi diri melalui proses pembelajaran yang tersedia pada jalur, jenjang, dan
jenis pendidikan tertentu. Dasar hakiki diperlukannya pendidikan bagi peserta
didik adalah karena manusia adalah makhluk susila yang dapat dibina dan
diarahkan untuk mencapai derajat kesusilaan. Peserta didik menurut sifatnya
dapat didik, karena mereka mempunyai bakat dan disposisi-disposisi yang
memungkinkanuntuk diberi pendidikan, di antaranya adlah sebagai berikut.
·
Tubuh anak sebagai
peserta didik selalu berkembang, sehingga semakin lama semakin dapat menjadi
alat untuk menyatakan kepribadiannya.
·
Anak dilahirkan dalam
keadaan tidak berdaya. Keadan ini dapat menyebabkan dia terikat kepada
pertolongan orang dewasa yang bertanggung jawab.
·
Anak membutuhkan
pertolongan, pelindung, serta pendidikan.
·
Anak mempunyai daya
eksporasi. Anak mempunyai kekuatan untuk menemukan hal-hal yang baru di dalam
linhkungannya dan menuntut kepada pendidik untuk diberi kesempatan.
·
Anak mempunyai dorongan
untuk mencapai emansipasi dengan orang lain.
Seorang
pendidik memiliki kepentingan untuk mengetahui usia perkembangan setiap peserta
didik, sebab perkembagan antara satu peserta didik dengan yang lainnya itu
berbeda, dan itu bergantung pada kondisi fisik dan lingkungan yang
memengaruhinya.
3.
Pedidik
Pendidik
adalah orang laki-laki dan perempuan yang dengan sengaja mempengaruhi orang
lain untuk mencapai tingkat kemanusiaan yang lebih tinggi. Dengan kata lain,
pendidik adalah orang yang lebih dewasa yang mampu membawa peserta didik ke
arah kedewasaan (Suarno, 2006:37). Dewasa di sini bukan sekedar dewasa fisik
atau umur, tetapi dewasa secara keseluruhan, yaitu mental, intelektual, sosial,
fisik, dan psikis.
Secara
akademis, pendidik adalah tenaga kependidikan, yakni anggota masyarakat yang
mengabdidkan diri dan diangkat untuk menunjang penyelenggaraan pendidikan.
Pendidik merupakan tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan
melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan
pembimbingan dan pelatihan, serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada
masyarakat ( Undang-Undang No. 14 Tahun 2005 tentang Guru Dan Dosen ) terutama
bagi pendidik pada pendidikan tinggi. Artinya, pendidik harus memiliki
kualifikasi minimum dan sertifikasi sesuai dengan jenjang kewenangan mengajar,
sehat jasmani dan ruhani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan
pendidikan nasional.
4.
Alat
Pendidikan
Alat
pendidikan adalah hal yang tidak saja membuat kondisi-kondisi yang memungkinkan
terlaksananya pekerjaan mendidik, tetapi juga sebagai langkah atau situasi yang
membantu pencapaian tujuan pendidikan.
Abu
Ahmad dalam Suwarno (2006:38) membedakan alat pendidikan ini ke dalambeberapa
kategori, yaitu sebagai berikut.
5.
Alat
Pendidikan Positif dan Negatif
Alat
pendidikan positif diaksudkan sebagai alat yang ditujukan agar anak mengerjakan
sesuatu yang baik, misalnya, pujian agar anak mengulang pekerjaan yang menurut
ukuran adalah baik. Alat pendidikan negatif dimaksudkan agar anak tidak
mengerjakan sesuatu yang buruk, misalnya, larangan atau hukuman agar anak tidak
mengulangi perbuatan yang menurut ukuran norma adalah buruk.
6.
Alat
Pendidikan Preventif dan Kerektif
Alat
pendidikan preventif merupakan alat untuk mencegah anak mengerjakan sesuatu
yang tidak baik, misalnya, peringatan atau larangan. Alat pendidikan korektif
adalah alat untuk memperbaiki kesalahan atau kekeliruan yang telah dilakukan
peserta didik, misalnya, hukuman.
7.
Alat
Pendidkan yang Menyenagkan dan Tidak Menyenangkan
Alat
pendidik yang menyenangkan merupakan alat yang digunakan agar peserta didik
menjadi senang, misalnya, dengan hadiah atau ganjaran. Alat pendidikan yang
tidak menyenangkan dimaksudakan sebagai alat yang dapat membuat peserta didik
merasa tidak senang dan tidak nyaman melakukan sesuatu karena aktifitasnya
tidak produktif. Dalam proses pendidikan, contoh alat pendidikan tidak
menyenangkan adalah hukuman atau celaan.
8.
Lingkungan
Lingkungan
pendidikan adalah lingkungan yang meliputi terjadinya proses pendidikan.
Lingkungan pendidikan meliputi keluarga, sekolah, dan masyarakat.
a. Lingkungan
keluarga
Keluarga
merupakan pendidikan yang pertama dan utama. Keluarga memiliki pengaruh yang
sangat kuat terhadap perkembangan kepribadian anak karena sebagian besar
kehidupan anak berada di tengah-tengah keluarganya. Untuk mengoptimalkan kemampuan
dan kepribadian anak, orang tua harus menumbuhkan suasana edukatif di
lingkungan keluarganya sedini mungkin. Suasana edukatif yang dimaksud adalah
orang tua yang mampu menciptakan pola hidup dan tata pergaulan dalam keluarga
dengan baik sejak anak dalam kandungan. Begitu penting pengaruh pendidikan
dalam keluarga, sehingga orang tua harus menyadari tanggung jawab terhadap
anaknya. Tanggung jawab yang harus dilakukan orang tua adalah sebagai berikut.
·
Memelihara dan
membesarkannya
Tanggung jawab ini merupakan
dorongan alami yang harus dilakssnakan karena anak memerlukan makan, minum, dam
perawatan agar ia dapat hidup secara berkelanjutan.
·
Melindungi dan menjamin
kesehatannya
Orang tua bertanggung jawab terhadap
perlindungan anak,termasuk menjamin kesehatan anak,baik secara jasmani atau
rohani dan berbagai penyakit atau bahaya lingkungan yang dapat membahayakan
dirinya.
·
Mendidik dengan berbagi
ilmu
Orang tua memiliki
tanggung jawab besar terhadap pendidikan anak. Orang tua perlu membekali
anaknya dengan ilmu pengetahuan dan keterampilan yang berguna bagi kehidupan
anaknya kelak, sehingga pada masa dewasanya mampu mandiri dan bermanfa’at bagi
kehidupan sosial, bangsa, dan agamanya.
·
Membahagiakan kehidupan
anak
Kebahagiaan anak
menjadi bagian dari kebahagiaan orang tua. Oleh sebab itu, orang tua harus
senantiasa mengupayakan kehidupan anak dalam kapasitas pemenuhan kebutuhan
sesuai dengan perkembangan usianya, yang diiringi dengan memberikan pendidikan
agama dan akhlaq yang baik.
Untuk melaksanakan berbagai
tanggung jawab itu, dalam konsep pendidikan modern, orang tua seyogianya
bersikap demokratis terhadap anak. Artinya, orang tua mampu menciptakan suasana
dialogis dengan anak, sehingga dapat menumbuhkan hubungan keluarga yang
harmonis, saling menghormati, disiplin, dan tahu tanggung jawab masing-masing.
Suasana demikian akan sangat mendukung kepribadian anak, sehingga anak akan
terbiasa dengan sikap yang baik di lingkungannya, baik di lingkungan keluarga,
sekolah, maupun di masyarakat.
b. Lingkungan
Sekolah
Sekolah adalah lembaga
pendidikan yang secara resmi menyelenggarakan kegiatan pembelajaran secara
sistematis, berebcana, sengaja, dan terarah. Mulai dari tingkat Kanak-kanak
(TK) sampai dengan Pendidikan Tinggi (PT). Sekolah melakukan pembinaan pendidikan
kepada peserta didik yang didasarkan pada kepercayaan yang diberikan oleh
keluarga dan masyarakat. Kondisi itu muncul karena keluarga dan masyarakat
memiliki keterbatasan dalam melaksanakan pendidikan. Tetapi, tanggung jawab
pendidikan anak seutuhnya menjadi tanggung jawab orang tua. Sekolah hanya
meneruskan dan mengembangkan pendidikan yang telah diperoleh di lingkungan
keluarga sebagai pendidikan informal yang telah dikenal anak sebelumnya.
Sekolah sebagai penyelenggara pendidikan formal mempunyai tanggung jawab yang
besar terhadap berlangsungnya proses pendidikan, yang dibagi dalam tiga
kategori berikut.
·
Tanggung jawab formal.
Sesuai dengan fungsinya, lembaga pendidikan bertugas untuk mencapai tujuan
pendidikan berdasarkan undang-undang yang berlaku.
·
Tanggung jawab
keilmuan. Berdasarkan bentuk, isi, dan tujuan, serta jenjang pendidikan yang
dipercayakan kepadanya oleh masyarakat.
·
Tanggung jawab
fungsional. Tanggung jawab yang diterima sebagai pengelola fungsional dalam
melaksanakan pendidikan oleh para pendidik yang pelaksaannya berdasarkan
kurikulum.
c. Taman
Kanak-kanak (TK) dan Raudhatul Athfal (RA).
Pelaksanaan
pembelajaran di TK dan RA diintegrasikan dalam tiga bidang pengembangan.
·
Pengembangan moral,
budu pekerti, dan nilai-nilai agama melalui pendidikan agama dan
kewarganegaraan.
·
Pengembangan sosial dan
emosi melalui pendidikan sosial dan pelatihan kematangan emosi.
·
Pengembangan kemampuan
dasar melalui pendidikan bahasa, kognisi, dan fisik.
d. Sekolah
Dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI).
Penyelenggaraan pendidikan di
Sekolah Dasar dan Madrasah Ibtidaiyah dimaksudkan untuk menghasilkan lulusan
yang memiliki dasar-dasar karakter, kecakapan, keterampilan, dan pengetahuan
yang memadai untuk mengembangkan potensi diri secara optimal, sehingga lulusan
memiliki ketahanan dan keberhasilan dalam pendidikan lanjutan, serta kehidupan
yang selalu berubah sesuai dengan perkembangan zaman.
e. Sekolah
Menengah
Sekolah menengah bersifat
umum yang terdiri dari Sekolah Menengah Pertama (SMP) atau Madrasah Tsanawiyah
(MTs) dan Sekolah Menengah Atas (SMA) atau Madrasah Aliyah (MA). Penyelenggaran
sekolag menengan ditujukan untuk menghasilkan lulusan yang memiliki karakter,
kecakapan, dan keterampilan yang kuat untuk mengadakan hubungan timbal balik
dengan lingkungan sosial, budaya, dan alam sekitar, serta mengembangkan
kemampuan lebih lanjut dal dunia kerja atau pendidikan lebih lanjut. Pendidikan
nasional menerapkan kurikulum yang diberi nama Kurikulum Berbasis Kompetensi
yang memberikan dasar-dasar pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman belajar
yang membangun integritas sosial, serta mewujudkan karakter nasional. Kurikulum
ini dikembangkan untuk memberikan keterampialn dan keahlian bertahan hidup
dalam perubahan, pertentangan, ketidakpastian, dan kerumitan-kerumitan hidup.
f. Lingkungan
Masyarakat
Secara umum masyarakat adalah
sekumpulan manusia laki-laki dan permpuan yang bertempat tinggal dalam suatu
kawasan dan saling berinteraksi dengan sesama utuk mencapai tujuan. Anggota
masyarakat terdiri dari berbagai macam pendidikan, profesi, keahlian, suku
bangsa, kebudayaan, agama, maupun lapiasan sosial sehingga menjadi masyarakat
yang majemuk. Secara tidak langsung, setiap anggota masyarakat telah mengadakan
kerja sama dan saling memengaruhi untuk memenuhi kebutuhan dan mencapai tujua.
Dalam konsep pendidikan, masyarakat diartikan sebagai sekumpulan orang dengan
berbagai ragam kualitas diri yang tidak berpendidikan sampai berpendidikan
tinggi. Baik buruknya kualitas masyarakat ditentukan oleh kualitas pendidikan
anggotanya, sehingga semakin baik pendidikan anggotanya, semakin baik pula
kualitas masyarakat secara keseluruhan.
Ditinjau dari lingkungan pendidikan,
masyarakat disebut sebagai lingkungan pendidikan nonformal yang memberikan
pendidikan secara sengaja dan berencana kepada seluruh anggotanya, tetapi tidak
sistematis. Masyarakat menerima semua anggota yang beragam untuk diarahkan
menjadi anggota yang sejalan dengan tujuan masyarakat itu sendiri yang
berorientasi pada pencapaian kesejahteraan sosial, jasmani-ruhani, dan
jugamental spiritual.
Pendidikan di masyarakat adalah
orang dewasa laki-laki dan perempuan yang bertanggung jawab terhadap
pendewasaan warga lainnya (baca: perangkat desa, tokoh informal, lembaga
swadaya masyarakat) melalui sosialisasi lanjutan.
B.
Fungsi
Pendidikan
Pendidikan sebagai sebuah aktifitas
tidak lepas dari fungsi dan tujuan. Fungsi utama pendidikan mengembangkan
kemampuan dan membentuk watak, kepribadian serta peradaban yang bermartabat
dalam hidup dan kehidupan atau dengan kata lain bendidikan berfungsi
memanusiakan manusia agar menjadi manusia yang benar sesuai dengan norma yang
dijadikan landasnnya.
Menurut Horton dan Hunt, lembaga pendidikan
berkaitan dengan fungsi yang nyata (manifes) berikut:
- Mempersiapkan anggota masyarakat untuk mencari nafkah.
- Mengembangkan bakat perseorangan demi kepuasan pribadi dan bagi kepentingan masyarakat.
- Melestarikan kebudayaan.
- Menanamkan keterampilan yang perlu bagi partisipasi dalam demokrasi.
Fungsi lain
dari lembaga pendidikan adalah sebagai berikut.
- Mengurangi pengendalian orang tua. Melalui pendidikan, sekolah orang tua melimpahkan tugas dan wewenangnya dalam mendidik anak kepada sekolah.
- Menyediakan sarana untuk pembangkangan. Sekolah memiliki potensi untuk menanamkan nilai pembangkangan di masyarakat. Hal ini tercermin dengan adanya perbedaan pandangan antara sekolah dan masyarakat tentang sesuatu hal, misalnya pendidikan seks dan sikap terbuka.
- Mempertahankan sistem kelas sosial. Pendidikan sekolah diharapkan dapat mensosialisasikan kepada para anak didiknya untuk menerima perbedaan prestise, privilese, dan status yang ada dalam masyarakat. Sekolah juga diharapkan menjadi saluran mobilitas siswa ke status sosial yang lebih tinggi atau paling tidak sesuai dengan status orang tuanya.
- Memperpanjang masa remaja. Pendidikan sekolah dapat pula memperlambat masa dewasa seseorang karena siswa masih tergantung secara ekonomi pada orang tuanya.
- Transmisi (pemindahan) kebudayaan.
- Memilih dan mengajarkan peranan sosial.
- Menjamin integrasi sosial.
- Sekolah mengajarkan corak kepribadian.
- Sumber inovasi sosial.
C.
Tujuan
Pendidikan
Setiap kegiatan, apapun bentuk dan
jenisnya, sadar atau tidak sadar, selalu dihadapkan pada tujuan yang ingin
dicapai. Bagaimana pun, segala usaha yang tidak mempunyai tidak akan mempunyai
arti apa-apa. Dengan demikian, tujuan merupakan faktor yang sangat penting
dalam setiap kegiatan, termasuk kegiatan pendidikan. Cita-cita atau tujuan yang
ingin dicapai harus dinyatakan secara jelas sehingga semua pelaksanaan dan
sarana pendidikan memahami atau mengetahui suatu proses kegiatan seperti
pendidikan, bila tidak mempunyai tujuan yang jelas untuk dicapai, maka
prosesnya akan menjadi kabur.
Tentang tujuan pendidikan, Langeveld
membedakannya menjadi enam tujuan pendidikan.
1.
Tujuan
umum
Tujuan umum adalah tujuan yang akan
dicapai di akhir proses pendidikan, yaitu tercapai kedewasaan jasmani dan
rohani didik. Maksud kedewasaan jasmani adalah jika pertumbuhan jasmani sudah
mencapai batas pertumbuhan maksimal, maka pertumbuhan jasmani tidak akan
berlangsung lagi. Kedewasaan ruhani adalah peserta didik sudah mampu menolonh
dirinya sendiri, mampu berdiri sendiri, dan mampu bertanggung jawab atas semua
perbuatannya.
2.
Tujuan
Khusus
Tujuan khusus adalah tujuan tertentu
yang hendak dicapai berbagai usia, jenis kelamin, sifat, bakat, inteligensi,
lingkungan sosial-budaya, tahap-tahap perkembangan, tuntutan syarat pekerjaan,
dan sebagainya.
3.
Tujuan
Tidak Lengkap
Tujuan tidak lengkap adalah tujuan
yang menyangkut sebagian aspek manusia, misalnya tujuan khusus pembentukan
kecerdasan saja, tanpa memperhatikan yang lainnya. Jadi tujuan tidak lengkap
ini bagian dari tujuan umum yang melengkapi perkembangan seluruh aspek
kepribadian.
4.
Tujuan
Sementara
Proses untuk mencapai tujuan umum
tidak dapat dicapai secara sekaligus, karenanya perlu ditempuh setingkat demi
setingkat. Tingkatan demi tingkatan diupayakan untuk mencapai tujuan akhir itulah
yang dimaksud tujuan sementara contohnya anak menyelesaikan pendidikan
dijenjang pendidikan dasar merupakan tujuan sementara untuk selanjutnya
melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi seperti sekolah menegah dan perguruan
tinggi.
5.
Tujuan
Intermedier
Tujuan intermedier adalah tujuan
perantara bagi tujuan lainya yang pokok. Misalnya, anak dibiasakan untuk
menyapu halaman, maksudnya agar ia kelak mempunyai rasa tanggung jawab.
6.
Tujuan
Insidental
Tujuan Insidental adalah tujuan yang
mencapai pada saat-saat tertetu, yang sifatnya seketika dan spontan. Misalnya,
orang tua menegur anaknya agar berbicara sopan.
Menurut
Bloom (dalam Suwarno, 2006:35-36), tujuan pendidikan dibedakan menjadi tiga.
·
Domain Kognitif
Domain
kognitif meliputi kemampuan-kemampuan yang diharapkan dapat tercapai setelah dilakukannya
proses belajar-mengajar. Kemampuan tersebut meliputi pengetahuan, pengertian,
penerapan, analisis, sintesis, dan evaluasi. Keenam kemampuan tersebut bersifat
hierakis. Artinya, untuk mencapai semuanya harus sudah memiliki kemampuan
sebelumnya.
·
Domain Afektif
Domai
efektif berupa kemampuan untuk menerima, menjawab, menilai, membentuk, dan
mengarakterisasi.
·
Domain Psikomotor
Terdiri
dari kemampuan persepsi, kesiapan, dan respons terpimpin.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Komponen pendidikan berarti bagian-bagian dari
sistem proses pendidikan, yang menentukan berhasil dan tidaknya atau ada dan
tidaknya proses pendidikan. Bahkan dapat diaktan bahwa untuk berlangsungnya
proses kerja pendidikan diperlukan keberadaan komponen-komponen tersebut.
Fungsi utama pendidikan
mengembangkan kemampuan dan membentuk watak, kepribadian serta peradaban yang
bermartabat dalam hidup dan kehidupan atau dengan kata lain bendidikan
berfungsi memanusiakan manusia agar menjadi manusia yang benar sesuai dengan
norma yang dijadikan landasnnya.
Sebagai suatu komponen pendidikan,
tujuan pendidikan menduduki posisi penting di antara komponen-komponen
pendidikan lainnya. Dapat dikatakan bahwa segenap komponen dari seluruh
kegiatan pendidikan dilakukan semata-mata terarah kepada atau ditujukan untuk
pencapaian tujuan tersebut. Dengan tujuan pendidikan diharapkan terbentuknya
manusia yang utuh dengan memperhatikan aspek jasmani dan rohani, aspek diri
(individualitas) dan aspek sosial, aspek kognitif, afektif, dan psikomotor,
serta segi serba keterhubungan manusia dengan dirinya (konsentris), dengan
lingkungan sosial dan alamnya (horizontal), dan dengan Tuhannya (vertikal).
B.
Saran
Saran yang ingin penulis sampaikan
adalah jika terdapat kesalahan dalam pembuatan makalah ini baik penulisan atau
susunan kata, kami harapkan agar pembaca dapat memakluminya karena kami masih
dalam tahap belajar. Kritik dan saran akan kami terima dengan lapang dada.
DAFTAR PUSTAKA
Dasar-Dasar Pendidikan(rangkuman).

Tidak ada komentar:
Posting Komentar